Monday, October 27, 2014

Dunia Pendidikan, Kepemimpinan & Keluarga



Pembuka:

Untuk memperoleh uang tidak perlu lulus sekolah tertentu yang penting bisa tulis baca, itu sudah cukup, meskipun hal tersebut terjadi di masa kini. Saya sudah bertemu dengan orang-orang yang secara pendidikan tidak lulus sekolah namun masih bisa tetap bekerja di tempat-tempat yang tidak membutuhkan ijazah ataupun gelar kesarjanaan and tetap bisa make it money. Ya hanya sebatas itu.


Tapi apakah cukup make it money????? Attitude yang paling no 1, banyak orang yang semata punya uang banyak tapi secara moral rendah. Apakah dunia pendidikan itu penting???? Sangat penting, saya sarankan bagi yang muda raihlah pendidikanmu sebaik-baiknya dan gunakan untuk tujuan mulia. Bahkan banyak juga orang tua masih termotivasi ingin terus belajar di dunia pendidikan pada bangku sekolah. Bagaimanapun saya tetap memprioritaskan pendidikan dikombinasikan dengan prilaku. Bagi saya figur yang baik itu adalah bila seseorang mampu menyelaraskan pendidikannya dengan prilaku yang terpuji dan seorang yang sungguh beriman. Tidak mungkin sama komposisinya seseorang yang menempuh jalur pendidikan formal berprilaku baik berbanding dengan  orang yang hanya tahu cari duit tapi minus prilaku, hal ini tidak dibenarkan dan bukanlah contoh yang baik. Dan satu lagi keberhasilan seseorang adalah di mulai dari keluarganya bukan dari luar, Meskipun seseorang sukses di luar tapi bila keluarganya tidak terpimpin, figur ini adalah figur yang gagal. Jangan bangga dengan banyaknya harta karna kita harus tahu prioritas apa di dalam hidup kita maka kita mengerti makna hidup yang benar. Untuk saya, prioritas hidup: 1. Tuhan 2. Keluarga  3. Pekerjaan dan 4. Pelayanan. Prioritas ini dalam posisi saya sebagai seorang pekerja di dunia sekuler.

Apalagi jika seseorang menjabat sebagai pejabat atau sebagai tokoh-tokoh masyarakat, hal-hal seperti pendidikan dan prilaku harus diperhatikan dan bagaimana cara orang tersebut membina keluarganya adalah keteladanan, ini figur masyarakat. Sedangkan untuk menjadi pendeta saja di masa kini diwajibkan lulus sarjana teologia karna demi meng-upgrade kualitas pelayan lebih baik dan tidak asal-asalan, Semakin modren zaman ini kualitas dunia pelayanan juga ikut berpacu dengan kemajuan zaman karna gereja juga harus bisa adaptasi dengan kemajuan zaman namun tentunya mengambil sisi positifnya. Saya jadi teringat ada hamba Tuhan yang digugat karna background nya bukan S.Th dan akhirnya hamba Tuhan tersebut mengambil kuliah untuk mengambil gelar S.Th agar bisa memimpin jemaat dan berdiri sebagai gembala. Menurut saya perlu juga orang yang tadinya tidak sekolah, bila akhirnya menjadi leader dalam suatu organisasi wajib sekolah agar tidak angkuh dan merasa mampu karna tidak sekolah. Perlu kerendahan hati untuk menjadi pemimpin dan ikutin proses yang wajar, agar mengerti bahwa untuk menjadi leader itu tidak mudah. Ibarat katanya nih, orang lain sudah berjerih lelah untuk sekolah dan sampai posisi tertentu dan tiba-tiba ada yang tidak sekolah menjadi leader  atau menjabat posisi dalam kepengurusan suatu organisasi yang bonafide bukankah ini tidak fair. Seakan-akan mau naik jalur cepat, pengalaman perlu tetapi pendidikan formal juga perlu untuk memperlengkapi. Saya mau tanya, apakah sekolah itu gampang???? Nope, tanyakan saja pada anak-anak sekolah, karna sekolah harus mampu mengalahkan rasa malas agar bisa menjadi pelajar yang baik dan berprestasi. Meskipun seorang yang pintar sekalipun harus rajin sekolah dan mengerjakan tugas-tugas untuk memenuhi tanggungjawab sebagai pelajar. Ada proses ya. Apalagi ngajarin anak TK atau SD, para guru harus siap-siap bersuara teriak-teriak dan itu sungguh melelahkan dan bagi guru baru ngajar yang suaranya kecil harus siap sedia bersuara besar agar diperhatikan murib dan bahkan suara guru menjadi serak. Di sekolah tidak hanya ilmu pengetahuan saja tapi akhlak juga diajarkan, jadi tidak mudah dan ditambah hadapin karakter murib yang beraneka ragam. Tapi dibalik itu semua sekolah adalah menyenangkan juga, dengan bermain, ketemu teman-teman, guru yang menyenangkan dsb. Jadi bila ada yang menganggap sekolah itu seakan-akan tidak penting bagi yang tidak sekolah apalagi yang berporos pada uang, individu tsb harus ditatar biar mengerti suka duka dunia sekolah dan tidak menyepelekan. Sudah banyak bukti uang bukan segala-galanya, bila tidak dialokasikan pada hal yang tepat sama saja nonsense or zero.

Untuk jadi pelayan gereja saja ada proses bahkan ada gereja yang memberikan pendidikan rohani atau mempersiapkan jemaatnya sebelum masuk dunia pelayanan agar tidak sepele dengan pelayanan dan pelatihan rohani agar mengerti tujuan dari pelayanan bukan untuk kesombongan. Ini dalam dunia gereja, apalagi di organisasi atau perusahaan bonafide pasti standarisasinya tinggi begitu juga di pemerintahan (jangan kalah atuh dengan berbagai pembenahan yang dilakukan oleh kaum rohaniawan di dunia gereja). Akan sangat fatal bila figur pejabat tidak bersih, terus contoh apa yang bisa diberikan bagi masyarakat dan generasi muda???? Sebagai contoh: Jangan katakan kepada orang lain sementara kamu sendiri merokok. Orang yang menasehati orang lain untuk tidak merokok sementara dirinya sendiri merokok, apakah pantas?????? Ingin merapikan keluarga orang lain, tapi keluarga sendiri tidak diperhatikan, apakah pantas???? Apalagi yang duduk dalam kepengurusan pemerintahan harusnya kualifikasinya lebih baik lagi karna tokoh yang bertanggungjawab bagi kelangsungan masyarakat bukan semata orang yang tahu cari uang, uang bukan segala-galanya you know. Karna jika seseorang menjalankan pekerjaannya dengan bersih dan berintegritas dengan sendirinya berkat Tuhan tercurah. Prinsip dalam hidup yang menurut saya bagus adalah "Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya akan di tambahkan kepadamu". Untuk apa seseorang memiliki seisi dunia ini tapi kehilangan keselamatannya atau menjadi hamba mamon????? Bukankah akan terasa indah, bila hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama sama baiknya.

Ini ayat yang bagus untuk para pemimpin dan tokoh-tokoh yang menjadi panutan di masyarakat, u must have this agar tidak dapat digugat ketika duduk di tampuk kepemimpinan karna dasarnya sudah benar:

 Timotius 3:1-13

Konteks
Syarat-syarat bagi penilik jemaat
3:1 Benarlah perkataan ini: w  "Orang yang menghendaki jabatan penilik x  jemaat 1  menginginkan pekerjaan yang indah." 3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat 2 , y  suami dari satu isteri, z  dapat menahan diri, a  bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, b  cakap mengajar c  orang, 3:3 bukan peminum 3 , d bukan pemarah e  melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, f 3:4 seorang kepala keluarga yang baik 4 , disegani dan dihormati g  oleh anak-anaknya. 3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat h  Allah? 3:6Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong i  dan kena hukuman j  Iblis. 3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik 5  di luar jemaat, k  agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. l 






Syarat-syarat bagi diaken
3:8 Demikian juga diaken-diaken 6  m  haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur 7 , n  jangan serakah,3:9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nuranio  yang suci. 3:10 Mereka juga harus diuji p  dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. 3:11Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, q  hendaklah dapat menahan diri r  dan dapat dipercayai dalam segala hal. 3:12 Diaken haruslah suami dari satu isteri s  dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. t  3:13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

(http://alkitab.sabda.org/bible.php?book=1Tim&chapter=3#n6)





Bukan lantas saya meremehkan orang yang tidak mengenyam pendidikan dengan baik tapi saya perlu meluruskan juga, karna ada juga yang tidak sekolah merasa lebih hebat dan angkuh karna bisa cari uang dan kemudian individunya secara tidak langsung menyebarkan issue bahwa seakan-akan pendidikan tidak penting (untuk apa sekolah, saya yang tidak sekolah saja bisa cari duit banyak; ini pernyataan sesat). Anggapan seperti itu salah karna untuk duduk di bangku sekolah ada proses. Untuk sebelum masuk sekolah adanya kompetisi antar murib berdasarkan prestasi, apalagi untuk masuk sekolah-sekolah favorit ada kriteria (tidak bisa sembarangan). Untuk sekolah seseorang butuh modal uang dan modal otak agar bisa bersaing dengan teman-teman sekolahnya karna murid atau mahasiswa pasti di tantang untuk berprestasi di sekolahnya atau di kampusnya. Pendidikan terbagi dua: pendidikan formal (ct: di sekolah) dan informal (ct: les piano). Harus diakui banyak orang tidak bisa sekolah karna kebentur uang atau otaknya tidak mampu. Jadi apa yang salah dengan dunia pendidikan???? Tidak ada yang salah, asal manusianya tahu memanfaatkan pendidikannya untuk tujuan mulia. Jadi jangan remehkan dunia pendidikan atau sesungguhnya individunya yang malas untuk bersekolah dan berdalih. Apa jadinya Nagasaki dan Hiroshima ketika di bom Amerika pada masa perang dunia ke II jika tidak perduli dengan pendidikan???? Pemimpinnya di masa itu malah menanyakan keberadaan guru. Begitu pentingnya pendidikan dan bisa kita lihat Jepang maju di masa kini meskipun negara tersebut rentan gempa tapi mereka kreatip dan melatih penduduknya untuk cakap menanggulangi gempa. Banyak etos kerja yang positif dari Jepang yang bisa ditiru, Dan bila tidak ada sekolah, dunia akan chaos. Dampak dari keberadaan sekolah terhadap akhlak suatu bangsa besar, jadi jangan sepelekan dunia pendidikan karna pengaruhnya besar. Seharusnya Indonesia bisa belajar banyak dengan tidak manja atau berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki. Buatlah sesuatu yang berguna dan mampu bekerja secara teamwork dan mandiri.

Semua orangtua yang sehat berpikir pasti akan lebih senang anaknya bersekolah karna bagaimanapun di bangku sekolah anak-anak diajarkan ilmu pengetahuan dan bersosialisasi dan juga pelajaran akhlak. Dan faktanya memang banyak pekerjaan yang menuntut pekerjanya minimal lulus SMU kecuali wiraswasta dari modal usaha keringat sendiri, tapi perusahaan dan organisasi apa bisa???? Kita tidak bisa menutup mata secara umum pasti menuntut lulusan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang hendak di lamar. Lagipula zaman makin canggih jadi sudah sangat wajar kualifikasi dalam pekerjaanpun semakin ditingkatkan karna bibit-bibit unggul juga makin banyak, modernisasi erat dengan kompetisi ini benar karna manusiapun semakin cerdas dan semakin hi-tech. Buktinya banyak sekali bertebaran hasil ciptaan manusia dari para pakarnya yang terus mengalami pembaharuan. Bahkan planet mars pun hendak di tempuh. Jadi mari kita open minded belajar untuk menghargai dan bukan meremehkan dunia pendidikan karna hal ini sama saja degradasi moral.

Saya ingin menginformasikan tentang kisah dua keluarga yang hidup di abad 18, yaitu perbandingan antara keluarga Jonathan Edward dan Keluarga Max Jukes dari hasil penelitian dari seorang sarjana bernama Benjamin B. Warfield dari Princeton, Amerika Serikat. Jonathan Edward adalah seorang pengkotbah kebangunan rohani yang terkenal di masa itu dan Max Jukes yang seorang atheis. Jonathan Edward adalah seorang pria yang takut Tuhan dan perduli keluarga. Dan setelah diteliti, inilah hasil keturunan dari Jonathan Edward: Ia mempunyai 1000 lebih Keturunan :  65 orang menjadi profesor, 13 orang menjadi rector, 3 orang terpilih sebgai senator Amerika Serikat/ anggota DPR, 30 orang menjadi hakim, 100 orang menjadi pengacara, 75 orang menjadi perwira militer, 100 orang menjadi pendeta, 60 orang menjadi penulis terkenal/ penulis buku terlaris, 80 orang memegang peranan penting dalam berbagai instansi/ pemuka masyarakat, termasuk menjadi gubenur, 1 orang adalah wakil presiden Amerika Serikat, 66 orang dokter, 135 orang editor, 1 orang penerbit, lebih dari 100 orang misionaris, 80 orang memiliki kantor publik, 1 orang menjadi wakil presiden AS, 1 orang menjadi istri presiden AS, 1 orang penilik keuangan AS, dan tidak ada keturunannya yang merugikan Negara.
Dan inilah hasil keturunan Max  Jukes yang mempunyai 540 keturunan : 310 mati sebagai pengemis, 150 orang keturunannya pernah masuk penjara dengan berbagai kejahatan yang pernah dilakukan, dengan hukuman penjara rata-rata 13 tahun, 7 di antaranya adalah pembunuh. Lebih dari 100 orang adalah pemabuk. Banyak dari keturunannya menjadi wanita yang tidak baik dan keluarga ini telah merugikan Negara sebesar 1,25 juta, atau sebesar 12 milyard rupiah (pada abad ke 19). Keluarga Jukes, telah merugikan pemerintah Amerika Serikat lebih dari setengah juta dollar untuk merehabilitasi dan mereka tidak memberikan kontribusi tapi malah merugikan negara. 
http://en.wikipedia.org/wiki/Jonathan_Edwards_(theologian)
http://www.rfrick.info/jukes.htm


Ukuran Sukses individu harus dimulai dari keluarganya, keluarga harus jadi prioritas. Rasa damai itu harus dimulai dari rumah, maka individu baru layak dijadikan suri tauladan bagi sesamanya. Tidak ada guna sukses di luar tapi keluarga berantakan dan anak-anak tidak bisa terawat dengan baik dan pendidikan minus. Uang bukan segala-galanya, banyak orang kehilangan harga diri dan tidak bermartabat karna dikuasai oleh hawa nafsu duniawi dan serakah. Namun bila keluarga beres, maka pada saat berkat Tuhan tercurah berkat dapat difungsikan untuk memberkati sesama bukan untuk memperkaya diri sendiri. Semakin Tuhan berkuasa di hidup individu, maka semakin dermawan pula terhadap sesamanya, semakin bijaksana dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi. Dari dua contoh tokoh Jonathan Edward dan Max Jukes dapat kita petik hikmahnya bahwa betapa pentingnya keberadaan Tuhan dan peranan keluarga untuk mengukir kesuksesan pada generasi penerus/keturunan. Dan  bila dua hal diatas tidak dikerjakan dengan baik, maka akhirnya hal-hal negatif yang mengikuti seperti yang dirasakan keturunan Max  Jukes. Masihkah anda berpikir bahwa yang penting sukses di pekerjaan sudah cukup tanpa memperdulikan akhlak??? Saya yakin ketika anda membaca kisah diatas dan tulisan ini, akan merubah paradigma kita selamanya bahwa sukses dipekerjaan dan banyaknya uang bukan segala-galanya, apalagi bagi yang perduli dengan keturunan/generasi muda, sayang dengan keluarganya, pasti kita ingin generasi penerus kita yang sudah pada dewasa dapat makanan sehat dan terjamin hidupnya baik secara rohani maupun jasmani. Apa yang kita tabur hari ini akan berdampak tidak hanya pada kita tapi pada generasi penerus, seperti apa wajah dari generasi penerus kita ditentukan dari apa yang kita korbankan dan prioritaskan di hari ini.

Tuhan Yesus Berkati


Dan penutup:

Sudah berapa kali saya mimpi dimana saya sedang menempuh pendidikan dan sedang menuju kelulusan dan pada saat itu dalam mimpi saya seperti sesak nafas karna dikejar-kejar waktu kelulusan dan mata pelajaran yang harus saya selesaikan, hati rasanya tidak tenang. Padahal kenyataannya saya sendiri sudah menyelesaikan tuntas masa pendidikan saya dengan baik. Ketika tersadar dari mimpi dan mengingat saya sudah lulus pendidikan, rasanya lega. Pendidikan hingga masuk jenjang perguruan tinggi adalah penting bagi saya meskipun gelar itu sendiri layaknya hanya pajangan bagi saya namun ada kepuasan batin yang saya dapatkan. Lewat mimpi tersebut, mungkin Tuhan ingin berkata, "kamu sudah lulus Poppy" dan saya lega (tx God). Saya sama sekali tidak menyesali banyak waktu yang sudah saya lewatkan dalam menyelesaikan kuliah saya dan berguna pada kehidupan saya sehari-hari jadi bukan pajangan lagi yah tapi hiasan.



written: PoppyPurity



No comments:

Post a Comment