Sunday, March 23, 2014

Pops Umbrella learn me for Give Thanks




Sekitar di awal tahun saya membeli payung baru lipat setelah menjejalah berbagai tempat untuk mendapatkan hasil sesuai selera saya, akhirnya saya menemukan payung biru bermotif bunga dengan harapan saya bisa menggunakan payung ini dalam jangka waktu yang lama dan biru adalah warna kesukaan saya. Namun harapan tinggal harapan sekitar 2 bulan pemakaian payung tersebut, benang-benang yang menahan besinya putus satu persatu dan dengan terpaksa saya menjahit besi-besi yang menahan payung agar bisa mengembang dan menutup. Memang setelah di jahit kondisi payung seperti kembali membaik, namun hal inipun tidak berlangsung lama dan kembali payung mengalami kerusakan karna salah satu besinya patah dan kemudian menjadi dua. Rasa-rasanya sempat tidak nyaman dan mengeluh dengan kondisi payung yang terlihat mudah layu apalagi di saat angin bertiup kencang maka sang payungpun seakan bisa tertarik ke atas bersama rangka-rangkanya dan dengan terburu-buru saya kembali mengatupkan payung tersebut pada posisi semula. Oh my, baru saja beli payung baru dan ada rasa tidak ikhlas untuk segera mengganti payung tersebut walaupun memang ada rencana ingin membeli payung baru. 



Dan hari ini ketika di jalan di kompleks sepulang gereja, kembali saya merasakan payung yang tertarik ke atas di saat matahari tengah terik-teriknya bersama rangkanya ketika tertiup angin dan rasanya hati ini ingin mangkel saja dan pada saat itu ketika saya jalan ada orang-orang yang lagi duduk di depan rumahnya dan pengendara motor yang melintas di saat saya berjalan. Ada kalanya ketika payung tertarik keatas ketika angin bertiup dengan keras dan mungkin saja ada yang melihat payung saya yang layu, namun saya seakan-akan tidak perduli dengan kondisi itu tetap melangkah maju dan mengabaikan rasa malu dan dengan ekspresi datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa melangkah dengan penuh percaya diri hahahaha. And merekapun akhirnya menganggap bukan hal yang aneh, seperti saya yang berlagak cuek dengan payung yang layu tersebut merekapun ikut bersikap sama. Hal ini juga berlaku bila sendal saya mendadak putus di tengah jalan, saya pasti akan memasang wajah tetap dengan still yakinnya dan berjalan cuek, namanya situasi terkondisi dan bukan dibuat-buat tentunya yang lainpun akan memaklumi. 
Dan hidup tidak akan perna ada habisnya bila dihadapi dengan kekecewaan, daripada ngedumel dengan kondisi payung yang layu alih-alih saya memilih untuk mengucap syukur kepada TUHAN. Dan ketika hati saya bersyukur, saya merasakan angin tidak bertiup kencang dan dengan demikian payung dengan mudah dikendalikan dan digunakan alias tidak goyang-goyang hahahahaha Saya memang senang menggunakan payung baik hujan maupun panas, payung tetap diperlukan olehku. Jadi tidak heran di tas selalu tersedia payung lipat untuk di bawa kemana-mana, semasa kuliah selain payung adalagi benda yang wajib saya bawa tisu dan tempat air minum yang berisi air mineral. Saya cukup rajin minum air putih. 



Memang mudah untuk mengganti barang yang tidak kita sukai atau tidak kita perlukan ataupun yang sudah rusak, namun saya belajar untuk menghargai sekecil apapun benda atau apapun yang ada padaku dan kemudian berusaha untuk merawatnya sebaik-baiknya, selagi bisa diperbaiki saya akan mempertahankan barang tersebut kecuali sudah rusak parah terpaksa dibuang ke rongsok. Saya memang cukup apik untuk merawat barang-barang saya. Dan dari semua itu TUHAN mengajarkan saya untuk tidak menganggap remeh atau bersikap manja, saya terbentuk untuk menjadi pribadi yang kuat meskipun secara manusia rasa-rasanya ingin mengeluh dengan situasi tapi ketika saya melihat perjalanan hidupku yang tidak selamanya terbentuk dengan enak namun adanya usaha dan cucuran keringat, akhirnya saya mempunyai perspektif jika segala sesuatu bila mudah diperoleh olehku mungkin aku tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang ini. Hari ini lewat payungku yang layu, TUHAN mengingatkanku tentang makna bersyukur. Ketika kita bersyukur maka hati kita melimpah dengan berkat dan kasih TUHAN bahkan menjadi tenang, tidak ada persungutan. Namun di balik rintangan yang saya hadapi, saya selalu menemukan kasih TUHAN YESUS mengalir dalam hidupku, saya yang dulu dan saya yang sekarang tentunya beda ada progres.

By: Poppy Purity



No comments:

Post a Comment